Bagian 1 "Peta Arah Pulang"
Di Desa Lombu yang terpencil, hiduplah seorang janda bersama putranya, Siko. Mereka hidup sangat bersahaja. Siko sudah menjadi anak yatim sejak berusia lima bulan, sehingga sang ibu harus berjuang sendirian menjadi tulang punggung keluarga.
Selain mengolah ladang kecil di pekarangan rumah untuk dijual ke pasar, ibu Siko juga bekerja sebagai buruh harian di ladang milik seorang juragan kaya di desa mereka.
Siko tumbuh menjadi anak yang pendiam dan jarang bersosialisasi. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk membantu ibunya di ladang dan rumah. Meski begitu, Siko memiliki seorang sahabat dekat bernama Sifta, putri tunggal sang juragan kaya.
Meski berasal dari status sosial yang bertolak belakang, persahabatan mereka terjalin sangat erat sejak kecil. Berbeda dengan istrinya yang kikir dan angkuh, ayah Sifta adalah sosok yang amat dermawan dan santun kepada para buruh.
Memasuki jenjang SMA, Siko dan Sifta masih menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Kedakatan mereka kian erat. Mereka kerap belajar bersama secara diam-diam untuk menghindari larangan ibu Sifta yang tidak suka putrinya bergaul dengan anak buruh.
Saat hari kelulusan tiba, keduanya lulus dengan nilai sangat memuaskan. Sekolah menyediakan beasiswa Strata-1 bagi lulusan terbaik, dan Siko terpilih sebagai penerima beasiswa tersebut berkat keunggulan akademik dan sikapnya yang konsisten sejak SD.
Di ruang kepala sekolah, Siko menerima kabar gembira itu dengan mata berkaca-kaca. "Alhamdulillah... Ter... terima kasih banyak, Bu," sahut Siko terbata-bata saat menerima ucapan selamat.
Siko berlari pulang untuk memberi tahu ibunya. Sang ibu mengecup kening Siko dan memeluknya erat penuh haru. Namun, di tengah kebahagiaan itu, air mata sang ibu menetes. Saat Siko bertanya, sang ibu bergeming dan berdalih hanya terlalu terharu, lalu menyuruhnya segera makan.
Siko tidak tahu bahwa tangis ibunya adalah bentuk keikhlasan untuk merelakan putra tunggalnya pergi merantau demi meraih cita-cita.
Beberapa hari sebelum keberangkatan Siko ke kota studi, ia bertemu dengan Sifta di tepi sungai dekat ladang.
"Sif, rencana kamu lanjut kuliah di mana?" tanya Siko.
"Aku akan lanjut ke Amerika Serikat," jawab Sifta pelan. "Kamu sendiri, jadi mengambil beasiswa itu?"
"Tentu saja," jawab Siko tersenyum.
Percakapan singkat itu menyisakan rasa sesak di dada keduanya. Ada rasa kehilangan yang coba ditutupi rapat-rapat.
"Kamu harus semangat ya, Ko. Aku yakin saat kita bertemu lagi, kamu sudah lebih baik dari hari ini. Dan aku harap kamu masih mau jadi temanku," ujar Sifta memecah keheningan.
"Iya, Sif. Kamu juga semangat. Sampai kapan pun, kita akan selalu berteman," jawab Siko lembut seraya mengusap kepala sahabatnya.
Saat sore melarut dan mereka berpisah pulang, Sifta tak sanggup lagi membendung air matanya. Setibanya di kamar, ia menangis sepuasnya. Pertemuan itu menjadi momen terakhir mereka sebelum menempuh jalan masing-masing dalam waktu yang lama.
Sifta sebenarnya telah lama memendam rasa cinta pada Siko, namun ia tak pernah berani mengutarakannya karena takut merusak persahabatan mereka. Mungkinkah Siko merasakan hal yang sama?
(Bersambung ke Bagian 2)

Belum ada Komentar untuk "Bagian 1 "Peta Arah Pulang""
Posting Komentar