Bagian 2 "Peta Arah Pulang"
Siko menghentikan langkahnya beberapa meter di belakang wanita itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menetralkan gemuruh di dadanya.
"Senja di sini ternyata tidak pernah berubah ya, Sif?"
Suara yang sangat dikenal itu memecah keheningan sore. Sifta tersentak, tubuhnya membeku seketika. Perlahan, ia membalikkan badan. Matanya membelalak tak percaya. Di hadapannya, berdiri sosok pria dewasa dengan pakaian rapi, bahu yang tegap, dan sorot mata hangat yang amat ia rindukan.
"Siko...?" bisik Sifta hampir tak terdengar. Perlaham, genangan air mata memenuhi pelupuk matanya.
Siko tersenyum lembut. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak yang selama ini membentang beribu-ribu mil di antara mereka. Kali ini, tidak ada lagi rasa minder sebagai anak buruh tani. Tidak ada lagi ketakutan akan perbedaan derajat yang pernah ditekankan oleh ibu Sifta. Siko memberanikan diri meraih jemari Sifta yang terasa dingin, menggenggamnya erat di atas dada.
"Aku kembali, Sif," tutur Siko dengan suara yang begitu dalam dan mantap. "Sesuai janjiku dulu... aku berjuang keras agar bisa berdiri tegak dan layak di sisimu. Selama bertahun-tahun ini, tak pernah sekalipun bayangmu hilang dari ingatanku. Aku menyukai kamu, Sifta. Sejak dulu, hingga detik ini. Apakah... masih ada kesempatan untukku?"
Dada Sifta naik turun menahan guncangan emosi. Air matanya menetes deras membasahi pipi. Namun, bukannya ukiran senyum bahagia yang merekah, raut wajah Sifta justru bertransformasi menjadi kepedihan dan rasa bersalah yang teramat sangat.
Perlahan tapi pasti, Sifta menarik jemarinya dari genggaman Siko. Ia melangkah mundur satu pijakan, menggelengkan kepalanya yang terkulai lelah.
"Siko... kamu terlambat," bisik Sifta dengan suara parau dan bergetar hebat. "Kenapa... kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?"
Kalimat itu menggantung di udara bagai petir di siang bolong. Sebelum Siko sempat mencerna arti dari tatapan redup Sifta, suara derap langkah sepatu kulit yang tegas terdengar memecah semak-semak dari balik pepohonan.
Seorang pria jangkung berjas rapi berjalan mendekati mereka dengan gestur dominan. Tatapan matanya dingin melintasi Siko, sebelum akhirnya pria itu merangkul pundak Sifta secara protektif dan menarik tubuh wanita itu mendekat ke sisinya.
"Ada masalah di sini, Sifta? Siapa dia?" tanya pria itu dengan nada rendah yang penuh intimidasi.
Sifta tertunduk layu, tak berani menatap mata Siko yang kini membelalak menahan guncangan. Bahu Sifta terguncang pelan menahan tangis.
"Siko... perkenalkan, ini Mas Aris. Dia investor yang menyelamatkan bisnis Ayah...," ujar Sifta dengan nada pasrah yang menyayat hati. Ia menengadah sebentar, menatap Siko dengan sisa-sisa keberaniannya. "...sekaligus tunanganku. Bulan depan... kami akan menikah."
Kata 'menikah' bergema berulang kali di kepala Siko. Dunia seolah berhenti berputar. Tatapan dingin pria bernama Aris dan cengkeraman tangannya di pundak Sifta menjadi jawaban tegas bahwa ruang yang selama ini diperjuangkan Siko telah diisi oleh orang lain. Udara sore di tepi sungai Desa Lombu mendadak terasa begitu menyiksa dan menghimpit dadanya.
(Bersambung ke Bagian 3)

Belum ada Komentar untuk "Bagian 2 "Peta Arah Pulang""
Posting Komentar