Bagian 3 "Peta Arah Pulang"

Malam jatuh di Desa Lombu dengan kesunyian yang mencekam. Di dalam kamar masa kecilnya, Siko duduk di tepi tempat tidur dengan tatapan kosong. Bayangan tatapan keputusasaan Sifta di tepi sungai terus membayangi pikirannya. Ada sesuatu yang janggal dari gestur tubuh Sifta—itu bukanlah tatapan seorang wanita yang sedang berbahagia menyambut pernikahan, melainkan tatapan seorang tawanan yang telah pasrah pada takdirnya.

Siko menolak untuk menyerah begitu saja. Pengalaman berkarir di dunia profesional mengajarkannya untuk tidak mengambil kesimpulan hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

Keesokan paginya, Siko melangkah menuju rumah Pak Juragan. Rumah megah yang dulunya menjadi simbol kejayaan itu kini tampak muram dan kurang terawat. Saat melangkah di pekarangan, ia bertemu dengan Pak Slamet, seorang pekerja senior di ladang yang dulu sering mengajari Siko kecil bercocok tanam.

"Siko? Masya Allah, kamu sudah besar dan sukses sekarang, Nak," sapa Pak Slamet dengan senyum hangat.

Setelah saling bertukar kabar singkat, Siko memberanikan diri mengarahkan pembicaraan pada topik utama. "Pak Slamet... kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Pak Juragan dan pria bernama Aris itu?"

Pak Slamet menghela napas panjang. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling sebelum mendekatkan dirinya ke Siko dan berbisik pelan.

"Semuanya bermula dua tahun lalu, Siko. Usaha Pak Juragan ditipu oleh mitra bisnisnya hingga bangkrut total. Bahkan rumah ini hampir disita bank," tutur Pak Slamet dengan raut prihatin. "Lalu muncul Pak Aris. Dia pengusaha dari kota yang bersedia menyuntikkan dana besar dan melunasi seluruh utang Pak Juragan."

"Tapi ada syaratnya?" tebak Siko dengan dada berdebar.

Pak Slamet mengangguk perlahan. "Aris tidak hanya meminta saham mayoritas perusahaan, tapi juga menuntut Sifta untuk menjadi istrinya. Ibu Sifta yang panik akan kehilangan status sosial langsung mendesak Sifta menerima tawaran itu. Pak Juragan sebenarnya sempat menolak keras karena tidak ingin mengorbankan masa depan putrinya, namun penyakit jantung beliau kumat dan kondisinya makin memburuk. Demi menyelamatkan nyawa ayahnya dan nama baik keluarga, Sifta akhirnya terpaksa setuju."

Dada Siko bergemuruh mendengar kenyataan tersebut. Dugaan Siko benar; pertunangan itu bukanlah didasari oleh cinta, melainkan bentuk pengorbanan dan ancaman terselubung yang dibungkus bantuan bisnis.

Siko tidak tinggal diam. Dengan latar belakang pekerjaannya di bidang investasi dan teknologi, ia langsung menghubungi rekan-rekan bisnisnya di ibu kota untuk memeriksa rekam jejak perusahaan milik Aris. Benar saja, dalam waktu singkat, Siko menemukan fakta mengejutkan: Aris dikenal sering menggunakan modus manipulasi finansial untuk menguasai aset pengusaha daerah yang sedang krisis. Bahkan, kebangkrutan Pak Juragan dua tahun lalu diduga kuat merupakan ulah rekayasa dari jaringan bisnis Aris sendiri.

Dengan dokumen dan bukti analisis keuangan yang kuat di tangannya, Siko menyusun rencana. Sore itu, ia kembali ke tepi sungai, berharap bisa menemui Sifta sendirian sebelum terlambat.

Sifta ada di sana, sedang duduk termenung menatap riak air. Wajahnya terlihat makin pucat dan letih.

"Sifta," panggil Siko lembut namun tegas.

Sifta menoleh, terkejut melihat kehadiran Siko. "Siko... tolong, jangan ke sini lagi. Mas Aris bisa marah besar kalau melihat kita."

Siko melangkah mendekat dan duduk di sampingnya, meletakkan sebuah berkas tebal di antara mereka. "Aku sudah tahu semuanya, Sif. Tentang utang ayahmu, tentang ancaman Aris, dan tentang alasan kenapa kamu mengorbankan dirimu."

Sifta membelalakkan mata. "Siko, kamu tidak mengerti... ini masalah keluarga kami. Aku tidak punya pilihan lain. Hanya Aris yang bisa menyelamatkan Ayah!"

"Aris tidak menyelamatkan ayahmu, Sifta," potong Siko seraya membuka berkas tersebut. "Dia yang menghancurkannya sejak awal. Kebangkrutan bisnis ayahmu dua tahun lalu disengaja oleh perusahaan cangkang milik Aris agar dia bisa menguasai aset ladang Lombu dan memaksamu menikah dengannya."

Sifta membeku saat membaca dokumen analisis dan bukti transaksi rahasia yang disodorkan Siko. Tangannya gemetar hebat.

"I-ini tidak mungkin..." bisik Sifta dengan air mata menetes di atas kertas berkas itu.

"Ini nyata, Sif. Dan aku berada di sini sekarang bukan cuma sebagai teman masa kecilmu, tapi sebagai seseorang yang sanggup melunasi seluruh investasi Aris dan mengembalikan hak keluargamu," ujar Siko mantap, menatap lurus ke dalam mata Sifta. "Kamu tidak perlu mengorbankan hidupmu demi kebohongan ini."

Tepat saat Sifta hendak bersuara, suara tepuk tangan yang lambat dan bernada ejekan terdengar dari arah semak-semak. Aris muncul bersama dua orang pengawal berbadan tegap, mengulas senyum sinis yang mengintimidasi.

"Pemandangan yang sangat menyentuh," ujar Aris melangkah mendekat dengan santai. "Anak buruh tani yang tiba-tiba merasa jadi pahlawan. Kamu pikir kertas-kertas itu bisa membatalkan perjanjian hukum yang sudah ditandatangani Pak Juragan?"

(Bersambung ke Bagian 4)

Aswad Attar Real Saya mengajar, saya belajar, saya menghormati

Belum ada Komentar untuk "Bagian 3 "Peta Arah Pulang""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel