Bagian 4 "Peta Arah Pulang"

Ketegangan membeku di tepi sungai. Aris berdiri menatap Siko dengan senyum meremehkan, sementara dua pengawalnya bergeming di belakang.

"Kertas itu tidak ada artinya," celetuk Aris dingin. "Pak Juragan sudah menandatangani klausul pengalihan aset dan kesepakatan keluarga. Kamu cuma anak buruh yang beruntung bisa pakai jas mahal, Siko. Jangan mimpi bisa bertindak bagai penyelamat."

Siko tak gentar. Ia merapikan berkas di tangannya lalu menatap Aris dengan tenang. "Bukan di sini tempat kita menyelesaikan ini, Aris. Kita bicarakan semuanya di depan Pak Juragan dan Ibu Sifta. Sekarang."

Suasana ruang tamu rumah megah Pak Juragan malam itu begitu mencekam. Pak Juragan duduk di kursi roda dengan selang oksigen terpasang, didampingi istrinya yang tampak cemas. Aris duduk menyilangkan kaki dengan santai, sementara Siko berdiri tegap di hadapan mereka bersama Sifta.

"Ada apa ini sebenarnya? Siko, untuk apa kamu datang ke sini malam-malam?" tanya Ibu Sifta dengan nada ketus, masih menyimpang keangkuhan masa lalunya meski kondisi ekonomi keluarganya telah jatuh.

Siko melangkah maju dan meletakkan dokumen-dokumen bukti audit di atas meja kaca.

"Pak Juragan, Bu... saya datang untuk menunjukkan bagaimana bisnis keluarga Anda dihancurkan secara terencana," buka Siko langsung ke intinya. "Dua tahun lalu, perusahaan pemasok utama ladang Anda tiba-tiba memutus kontrak dan menuntut ganti rugi fiktif hingga menyebabkan kebangkrutan. Perusahaan pemasok itu terbukti milik anak cabang dari grup usaha milik Aris."

Mendengar hal itu, raut santai di wajah Aris mendadak sirna. "Jangan membual! Dokumen palsu seperti itu bisa dibuat oleh siapa saja!"

"Ini dokumen resmi hasil audit forensik finansial dari lembaga independen di ibu kota," potong Siko tegas. "Bukan hanya itu, aliran dana suntikan investasi yang Aris berikan kepada Pak Juragan menggunakan metode bunga berbunga yang ilegal menurut hukum perdagangan. Aris sengaja membuat utang tersebut tidak mungkin terbayar agar bisa menyita seluruh aset ladang Lombu dan memaksakan pernikahan ini."

Ibu Sifta tercengang, tangannya gemetar meraih lembaran kertas di meja. Pak Juragan yang semula terbatuk-batuk, menatap Aris dengan sorot mata penuh kemarahan dan kekecewaan.

"Aris... apakah semua ini benar?" suara Pak Juragan terdengar parau namun berat. "Kamu yang merekayasa kebangkrutan saya?"

"Jangan percaya pada anak buruh ini, Pak!" gertak Aris mulai panik, berdiri dari kursinya. "Kalau Anda membatalkan kesepakatan ini, besok pagi seluruh aset rumah dan ladang ini akan disita bank! Anda akan hidup di jalanan!"

"Satu rupiah pun utang itu tidak akan menyentuh rumah ini lagi," potong Siko mantap. Ia mengeluarkan surat pengambilalihan hak tagih (cessie). "Perusahaan investasi tempat saya bekerja telah menutupi seluruh kewajiban utang Pak Juragan secara sah di mata hukum. Aris tidak lagi memiliki hak atas ladang maupun rumah ini."

Aris mengepalkan tangan, wajahnya merah padam. "Kamu... berani-beraninya campur tangan dalam urusanku!"

"Saya tidak campur tangan dalam urusanmu," jawab Siko lurus. "Saya hanya melindungi orang-orang yang saya sayangi dari kejahatanmu."

Sifta melangkah mendekati ayahnya, lalu berbalik menatap Aris dengan sorot mata yang tak lagi penakut. "Pergi dari rumah kami, Mas Aris. Pernikahan ini tidak akan pernah terjadi."

Dengan napas memburu dan rasa malu yang tak tertahankan di depan para pengawalnya, Aris akhirnya melangkah pergi meninggalkan rumah itu seraya melontarkan ancaman kekalahan.

Keheningan melingkupi ruangan. Ibu Sifta menunduk dalam-dalam, menyadari betapa keangkuhannya selama ini hampir menghancurkan hidup putri tunggalnya. Ia menatap Siko dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa penyesalan.

"Siko... maafkan Ibu atas sikap Ibu selama ini," bisik Ibu Sifta parau.

Siko tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Ia lalu menatap Sifta yang berdiri di sampingnya. Di luar jendela, rembulan malam Desa Lombu bersinar terang, menandai berakhirnya badai panjang dan dibukanya lembaran baru bagi mereka berdua.

(TAMAT)

Aswad Attar Real Saya mengajar, saya belajar, saya menghormati

2 Komentar untuk "Bagian 4 "Peta Arah Pulang""

  1. Bagus ceritanya kisah seorang lelaki yang memperjuangkan cinta sejatinya dan bahasanya yang disajikan dalam cerita ini mudah dimengerti pembaca..

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel